Sabtu, 25 Januari 2014

RIANDA PERTAMA

Anda, begitu teman - teman memanggilnya di sekolah dan di kampungku.
Temanku sewaktu aku dan dia masih bersama - sama di SLTA Negeri 2, teman sepermainan juga ketika ku ajak memancing belut sekedar menghilangkan stres dari penat nya pelajaran matematika dan fisika di sekolah. Arggh..aku benar - benar tidak mengerti dengan dua pelajaran tersebut, nilaiku pun selalu tidak lepas dari angka 6 atau jika sudah dengan seluruh keringat aku berusaha akan di hargai dengan angka 7, lumayan lah.
Tapi tidak dengan Anda, dia raja nya Matematika dan Fisika, Nilainya ku rasa 8 itu sudah skor yang sangat jelek untuknya, memang dia ahli di bidang itu.

Aku kenal dengan keluarganya, diapun juga begitu. Dia kecil dan besar bukan dari keluarga yang berada, malah jika dilihat dengan kasat mata sangat kurang malahan dari kebanyakan orang yang berada di kampungku.
Mempunyai kulit yang kelam, badan yang kurus cekung, terlihat seperti anak yang kurang vitamin di masa kecilnya. Aku rasa memang begitulah keadaannya waktu itu. Aku tak terlalu banyak tahu bagaimana masa kecilnya, karena dia juga baru pindah dan ngontrak disini ketika sudah berada di kelas 6 SD.

Ayahnya pedagang kaki lima yang menjual mainan anak kecil di pasar tradisional di kota kami. Ibunya sering membantu membersihkan rumah Pak Ali, dan juga mencuci pakaian mereka yang terlalu sibuk dan tidak sempat mencuci pakaiannya sendiri. 

Aku dan dia dulu juga berada di SLTP yang sama, SLTP Negeri 1. Dulu dia sempat hampir berhenti sekolah karena ayah dan ibunya tidak sanggup lagi untuk membayarkan uang sekolahnya, ia ceitakan keluh kesahnya itu ke aku. Ya aku bisa apa, orang tua ku juga hidup pas - pas-an tidak bisa juga mereka membantu Anda.
Namun akhirnya seluruh orang kampung berinisiatif mengumpulkan uang dan alhamdulillah dana yang terkumpul semuanya kira - kira Rp.3.750.000,-. Dengan uang segitu cukup untuk melanjutkan sekolahnya sampai ia SMA nantinya.

*********************************************************************************

Kamis, 13 November 2008

Waktu itu aku dan dia sedang berada di Mesjid mendengarkan pengajian remaja yang disampaikan ustadz Damiar. 
Tiba - tiba Andre datang ke Mesjid dengan nafas yang tersengal - sengal mencari Anda. Sepertinya ia berlari sangat kencang.
"ahhh...ahhh...A..aa...aaanda!!!!"
"Kenapa kamu ndre??, nanti ustadz marah itu."
"Ibu mu nda...Ibu...."
"Kenapa dengan ibu ndre??"
"Ibu mu.......sudah ndak ada lagi nda!!, ayo cepat pulang nda!! lihat ibumu nda..ayoo!!"

Aku yang berada di sebelah dia pun ikut tercengang dengan apa yang disampaikan Andre. Aku sungguh tak percaya, aku benar - benar tak percaya. Sungguh !!
Ku ambil kopiah ku, dan aku keluar dengan cepat dengan Anda dengan sangat cepat tanpa meminta izinpun ke Pak Ustadz yang sedang memberikan ceramah.
Aku yakin pak Ustadz pasti berfikir panjang juga kenapa  Anda dan Aku berlari kencang keluar dari mesjid tanpa meminta izin ke dia. Tapi aku benar - benar tidak percaya dengan apa yang disampaikan Andre.

Selang 10 menit berlalu, terdengar keras pengumuman dari mesjid
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un,
Telah berpulang ke Rahmatullah , nama  Siti Maimunan binti Ghafar, umur 45 Tahun
Berpulang ke rahmatullah malam ini pukul 20.15 WIB di kediaman nya. Marilah kita bersama - sama mendoakan supaya Almarhumah di terima disisi Allah SWT.

Aku sekarang berada di depan ibunya, aku benar - benar tak percaya, aku benar - benar tak mengerti bagaimana perasaan Anda melihat orang yang ia sayang sekarang sudah tiada. Sungguh !! aku tak tahu bagaimana menenangkan perasaan dia. Aku melihat kucuran air mata nya tak kunjung henti dari aku sampai di depan almarhumah ibu nya. Orang yang ia sering ceritakan ke aku tentang lemah lembut hatinya sekarang sudah dipanggil. Tentang betapa sering ia menceritakan kegigihan ibunya mencarikan ia uang sekolah, membelikan bukunya, sekarang benar - benar sudah tidak ada. Tentang cerita senyuman ibunya yang manis sekarang hanyalah sebuah kenangan. Andaaaa......
Aku bingung mau berbuat apa malam ini. Di ujung rumah Anda yang kecil aku melihat ibuku yang mengisyaratkan aku untuk memeluk Anda. Benar kata ibuku, hanya dengan sebuah pelukan hangat dari teman aku bisa menenangkan nya. Hanya itu yang bisa aku lakukan malam ini di iringi doa suci supaya beliau di terima dan ditempatkan di tempat terbaik oleh penguasa semesta alam.

********************************************************************************

Hari ini 7 hari setelah kepergian ibunya. Ia terlihat sudah bisa membuka senyuman untukku dari 1 atau 2 hari kepergian ibunya, bahkan di hari tersebut sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya.
Aku ingin memulai bicara, namun terlibih dahulu ia sontak berkata :
"Aku ndak apa - apa yat, ini sudah jalan illahi yat" Tampak ia tersenyum ketika berkata itu.

Tapi aku yakin itu adalah senyuman yang dipaksakan. Aku mengerti, memang aku harus mengerti.

Ia lanjutkan bicara
"Bukankah setiap yang bernyawa pasti akan di panggil yat? bukankah nanti aku, kamu juga akan dipanggil??"

Aku benar - benar tidak bisa berkata apa - apa lagi dengan apa yang barusan ia bicarakan. Aku hanya menjawab "Iya nda". Hanya itu yang bisa aku jawab.
Sumpah !! aku salut dengan dia, setidaknya ia bisa tabah dan bisa menerima keadaan.
Bahkan aku bertanya ke diriku, Apa aku bisa setabah ini??

********************************************************************************

Singkat cerita, ketika kami 1 bulan menuju Ujian Akhir Nasional
Sekarang giliran ayahnya yang dipanggil. 
Tempat satu - satunya ia bergantung sekarang pun sudah tak ada.
Aku benar - benar tak tahu bagaimana perasaan Anda kali ini. Rasanya sudah cukup derita yang ia terima sekarang bertambah lagi dengan kepergian ayahnya.
Sekarang ia benar - benar sebatang kara, tak ada lagi tempat bergantung.
Tak kuasa aku menahan tangis melihat kisah hidupnya.
Apa dia masih bisa melewati ujian hidup ini??
Aku benar - benar tak kuasa, aku benar - benar bingung dengan perasaanku kala itu yang bercampur aduk.
Apalagi Andaa.....
Ya Allah Andaa......
Ya Allah......

Dengan mata kepala sendiri aku lihat ia menjadi imam untuk jenazah ayahnya yang sudah berbalut kain kafan putih.
Dengan mata kepala sendiri aku lihat ia turun ke pemakaman untuk menguburkan ayahnya.
Dengan telinga sendiri aku mendengar ia melantunkan doa diatas kuburan ayahnya tersedu - sedu bercampur haru tangis dan kucuran air mata di pipinya.

Sekarang, tinggalah ia sebatang kara benar - benar sebatang kara, tanpa ada lagi saudara untuk tempat mengadu.

********************************************************************************

"Anda, kamu sekarang tinggal di rumahku saja gimana?, aku sudah minta izin ayah dan ibu dan mereka membolehkannya" tanyaku
"Aku disini saja yat, kemaren pak Kasim bilang aku boleh tinggal disini gratis sampai aku nanti lulus sekolah yat, ga apa - apa"
"ayolah nda, kamu di rumahku saja, nanti bagaimana makanmu? jajanmu?, ayolah di rumahku saja, ayoo!!" kataku sedikit memaksa
"ga apa - apa yat, aku disini saja. Pak Ali juga sudah menawarkan aku untuk kerja paruh waktu di toko miliknya, nanti buat makan dan jajanku ku dapatkan dari bekerja disana"
"ya udah, tapi nanti kalo kamu butuh apa - apa datang saja ke rumahku" jawabku sedikit lemas
"hehehe, iya yat. Oke, oke"

********************************************************************************

Beberapa hari setelah kelulusan kami, dia mengajakku untuk berjalan - jalan menyusuri pematang sawah di belakang rumahnya.
Aku lulus untuk menyambung kuliah di Jakarta sedang ia Lulus di ITB Bandung.
Sembari melihat pemandangan yang asri ia mulai buka suara :
"Yat, kita memang ga pernah tahu apa dan bagaimana jalan hidup kita ini yat,. Kita hanya menjalani dan Tuhan yang diatas yang lebih tahu segalanya. Sekarang ayah dan ibuku udah ga ada lagi yat"

Aku takut ia sedih untuk membicarakan ini semua, aku potong pembicaraan nya

"Kamu ga apa - apa cerita ini nda?" tanyaku

Dengan tersenyum ia melanjutkan pembicaraan nya 

"Jika tugas kita di dunia udah selesai, Tuhan pasti akan berkata "pulang", ayah dan ibu berarti udah selesai tugasnya di dunia ini yat."
"Kita juga punya tugas yang harus kita selesaikan yat, dan setelah itu kita akan kembali juga yat. Seindah - indah rencana manusia, lebih indah rencana Tuhan yat"
"Dan Anda yakin itu yat" tambahnya.

Sumpah !! satu kata "HEBAT" untuk Anda.

"Dayat bangga pernah berteman dengan orang sehebat, setegar dan sekuta Anda" kataku
dia hanya menjawab dengan senyuman.

Dan pada akhirnya kita dipisahkan.


Aku berangkat ke Jakarta menuntut ilmu disini.
dan Anda,,

Ia berangkat ke surga.
Aku mendapat kabar kalo ia tabrakan sewaktu pulang membawa motor dari mengantarkan Pak Ali ke bandara.


Satu hal yang aku pegang hari ini :
"Setiap orang pasti ada tugasnya di dunia dan ingatlah : Rencana Tuhan Lebih Indah dari Rencana Manusia"

Semoga kau tenang disana RIANDA PERTAMA
"Sampaikan ke pada warga kerajaan surga tentang betapa Tuhan mencintai hambaNya"

********************************************************************************



0 komentar:

Posting Komentar